TERBAIK
TERBAIK
Karya: Dhifah Amaliyah
"Hahahaha..." Tawanya lepas.
"Hahahaha..." Hingga terdengar kembali, "Hahahaha..." Ketiga kalinya tawa itu membuat satu asrama bertanya satu sama lain.
"Titin, apakah kau mendengar suara tawa itu?" Tanyaku dengan ekspresi gugup
"Iya, Mel, seperti suara syetan." Jawab temanku.
"Aaahh... Diamlah kau, sudah jangan bersu'udzon dahulu, mungkin itu... " Belum sempat aku melanjutkan ucapanku, Titin dan Khofifah pun sudah menyeretku keluar dari asramaku menuju ke asrama sebelah, ternyata temanku yang bernama Siska tersebut kembali berurusan dengan makhluk lain.
"Allahu Robby, Siska, ada apa denganmu?" Tanyaku dengan sedikit mendekatnya, ditambah dengan tubuh yang sudah mulai gemetar.
"Hihihihi...hihihihi...hihihi" Tangis pun bersaut sautan.
"Sudahlah, ini tidak untuk ditangisi, untuk apa menangis? Jika kau tetap dengan keadaan seperti itu tidak akan mengubahnya, yang ada hanya malah menambah masalah" Ucap kakak Dita.
"Ayo,cepat ambil Quran kita masing-masing!" Kataku dengan sedikit memotivasi.
"بسماللهلايضرمعسمه شيءفى الارض ولا فى السماءوهوالسميع العليم" juga dibacakanya ayat Kursi, Surah An-naas, Surah Al-Falaq, dan Surah Al-baqarah berulang kali secara bersama-sama.
"Alhamdulillah, Siska sudah sadar, dia sudah mulai bisa mengenalku," Ucap Titin penuh kegembiraan.
"Memang usaha tak akan menghianati hasil," Saut temanku lainya.
Siska pun sudah mulai bisa berinteraksi dan berbicara, dia pun meminta izin untuk tidur terlebih dahulu. Dengan mengehela nafas panjang, temanku semua berteriak kegirangan. "Woii woii, ini sudah larut malam, friends, sebaiknya kita menganggu teman-teman yang lain yang sudah pada tidur!" Ucap Dita dengan sedikit membentak,
"Jam sudah menunjukkan pukul 12:43 p.m, ayo kita tidur!" Semua pun menyetujui.
Aku,Titin,dan Khofifah mulai beranjak pergi meninggalkan Siska yang sudah tertidur nyenyak, dan tiga temanku lainya tetap mendampinginya.
Inilah yang namanya khas santri, suka menolong, suka membantu, dan saling mengingatkan satu sama lain.
"Dug dug dug dug...” Berulang kali suara hanger ditabuhkan pada pintu asrama, sebagai pengingat agar semua santri segera bangun dan segera mengikuti jamaah shubuh. Aku pun bergegas wudhu. Saat aku kembali ke asramaku, ternyata Titin belum juga bangun.
"Tin, sudah wudhu belum?" Tanyaku dengan menguping agar dia mendengar.
"Sudah dari tadi," Jawabnya seraya membalikkan badan. Tanpa berpikir panjang, kuambil segelas air, kucipratkan pada mukanya "Api,api,api, dimana ada kebakaran?" Dengan posisi Titin beranjak dari tempat tidurnya. Sorak serentak tawa mulai bergema.
"Hahahaha di neraka ada kebakaran, neraka mulai membakar orang yang tak mau mengerjakan sholat," Jawabku dengan selingan canda. Lalu kami pun sholat di lantai bawah.
Seperti biasa, tiap sholat shubuh pasti ada kultum yang dibawakan oleh Bu Nyai atau biasanya sering dipanggil Ummi. Kultum pun dimulai, para santriwati terlihat sangat mendengarkan tausiyah yang disampaikan Ummi dengan serius dan seksama. "Paham semua?" "Paham Nyii.." Jawab para santri serentak.
"Marilah kita tutup kultum pada pagi ini dengan bacaan hamdalah dan doa kafaratul majlis!" "Tsumma salaamu alaikum wr...wb,"
"Waalaikum salam wr...wb," Jawab santri serentak.
***
Hari demi hari telah ku lewati dengan kegiatan-kegiatan yang seperti itu. Setiap 3 bulan, para santri diperbolehkan pulang selama dua hari dua malam.
"Malam ini, malam terakhir kita di pondok," Ucap Titin seraya memegang pundakku.
"Hahahaha jangan sok sedih ahh, kau senang yaa? Kan tak ada lagi yang membangunkanmu, tak ada lagi yang namanya antrian, tak ada lagi lauk pauk yang membosankan," Jawabku agak sedikit merayu, dia pun membalas dengan ekspresi marah yang dibuat-buat.
"Kau merindukanku ya?"
"Tentulah!"
"Hahahaha, sudahlah kan kita dirumah hanya dua hari dua malam toh, mengapa kau membayangkan seperti halnya berpisah selamanya?" Kataku sambil mengelus pundaknya. Dia tak hanya membalasku dengan raut yang sedih.
Kemudian Titin pun membuka almarinya, dia mengeluarkan jajan miliknya sembari mengelungkanya padaku. "Ini untukmu sobat,"
"Kok tumben temanku baik hati Hahaha..." Dibalas dengan cubitan kecil dipahaku,
"Ini untukmu, besok hari Senin kan?"
"Iya..." Jawabku dengan penuh tanda tanya. Setelah berfikir lama, aku pun mengerti apa yang dia maksud, kuteruskan dengan senyuman kecil lalu memeluknya.
Seperti biasa, suara bel dicampur suara hanger yang ditabuh pada pintu sudah terdengar. Saatnya semua santri bangun dan bersiap segera untuk mengambil wudhu.
Usai sholat shubuh, seperti biasa, Bu Nyai memberikan kultum. Kultum pun berjalan lancar, tapi hari ini berbeda, bu Nyai banyak memberikan lelucon dalamnya. "Wis podo senenge ta rek rek, wis iso bebas kluyuran, bebas HP-an, bebas pacaran" (Sudah bisa senang senang ya rek rek, bisa bebas jalan jalan,bebas main HP, bebas pacaran), katanya dengan sedikit menyindir.
Tiba tiba Titin mengupingku, "Nyatanya aku tidak seperti yang dikatakan Ummi, aku sedih karna harus berpisah denganmu," Ujarnya sambil melas asih. Aku pun terdiam seribu bahasa, aku tak tahu perkataan mana, perkataan apa yang bisa membalas perkataan seindah itu, "Sobat, jelaskan pada Ummi, Ummi telah bersu'udzon padaku,"
"Yang mana?" Jawabku singkat.
"Bahwa aku bisa bersenang – senang," Tanpa pikir panjang, aku merangkulnya dengan berkata "Aku tanpamu, bagaikan ambulance tanpa uwiw-uwiw, hahhaha," Akhirnya dia kembali terbahak-bahak.
"Nah intinya semua yang telah disampaikan tadi “Lepaskanlah jiwamu dari urusan kebutuhan dunia, karna rizqimu yang telah ditangani Allah, kamu tidak perlu ikut memikirkanya. Karna penggebuanmu dalam mencari rizqi yang telah ditangani Allah, dan kemrosotanmu di dalam ibadah yang diperintahkan kepadamu itu menunjukkan atas kebutaan hatimu” berkata Ummi di depan kami semua.
"Paham semua?"
"Paham Nyii..."
"Sekian dari Ummi, marilah kita tutup kultum pagi ini dengan bacaan hamdalah dan doa kafaratul majlis!"
"Tsummassalaamu alaikum wr...wb,"
"Waalaikum salam wr...wb,"
Alkisah, sepulang dari pondok, aku melihat yang ayahku setiap harinya bekerja dengan pekerjaan yang berat, sontak dalam hati, aku sedikit teringat oleh isi kultum yang terakhir yang dibawakan oleh Ummi saat itu.
"Aku sayang ayah, aku tak mau ayah mengalami kemrosotan dalam ibadah, kan semua rizqi sudah ditanggung Allah," Unek dalam hatiku. Akhirnya tumbuhlah perasaan marah kepada ayahku, yang kemudian aku mempunyai tekad untuk menyembunyikan semua peralatan kerja milik ayahku.
"Sepertinya cukup aman!" Ucapku dalam hati.
Keesokan harinya, ayah pun terlihat kebingungan. "Aku tahu ayah, Ayah sedang mencari peralatan kerja kan?" Tanyaku dengan lantang. "Iya, Nak, benar, ayah ini memang sudah pikun kadang-kadang," Saut ayah dengan tak berdaya.
Setelah itu aku menceritakan apa yang sedang terjadi. "Ummi mengajarkanku, kita harus melepaskan jiwa dari urusan kebutuhan dunia, karena rizqi sudah ditanggung oleh Allah, satu hal lagi ayah, harta dunia menjadikan kebutaan hati dan kemrosotanmu dalam ibadah kepadaNya, maka dari itu aku menyembunyikan peralatan kerja milik ayah, karena aku sayang ayah,"
"Aduuuhhh, sakit ayah, kenapa ayah mencubitku berulang kali? Seharusnya ayah menyanjungku!" Dengan muka cemberut, aku pergi meninggalkan ayah. Ayah pun mencoba merayuku kembali "Wahai anakku yang belum pandai, bekerja bukan berarti cinta harta, ayah bekerja untuk mencukupi kebutuhan yang memang semestinya harus dipenuhi, dengan tetap tidak melupakan ibadah kepada-Nya, juga tetap doakan ayah ya, Nak! Agar ayah selalu lurus dijalan-Nya," Sambil mengelus rambutku.
(Bekerjalah seakan-akan kau akan hidup selamanya, dan beribadahlah seakan-akan kau akan mati esok)
Lanjutkan bakatmu, i pround of you
BalasHapusTerima kasih.!!!
HapusBagus, tinggal ganti tamplate blognya biar indah dan cantik dipandang.
BalasHapusTerima kasih kak, atas saranya
HapusBaguss
BalasHapusBagus. Semoga semakin semangat menulisnya..
BalasHapusTerima kasih kak.
HapusTerima kasih kak
BalasHapus